Hai kawan lawan semoga teteap tercurahkan berkat kasih karunia tuhan yang maha esa. Amen YRA.
Waktu itu pernah aku berbincang dengan otak ku sendiri antara konsep
keluarga dan
rumah tangga, apakah mereka punya arti yang berbeda ataukah sama, dan waktu itu juga sempat kami bincangkan dengan teman masa kuliah di strasa satu waktu itu dan kali ini tulisan kecil ini sedikit bercerita atau mencurahkan tentang keadaan rumah tangga dan keluarga serta hal lain yang di rasa perlu untuk disampaikan oleh si kafir logika itu.
Dalam rumah tangga ada begitu
banyak persoalan seperti hal nya yang terjadi pada sepasang manusia itu, mereka
sengaja untuk menunda kedatangan seorang bayi
karna memang mereka tidak menginginkannya, iyah mereka beranggapan
(terutama suami) bahwa selain pada masa usia bayi yang tidak lebih dari 5 tahun
itu adalah masa dia (bayi) masa yang paling menggemaskan, setelah itu tumbuh
kembang mulai balita dan nantinya menjadi dewasa, mereka beranggapan itu adalah
siklus kebiasaan yang semua orang melalui itu, mereka tidak mau kehidupannya sama
pada kebanyakan orang.
Rumah tangga itu di mulai dari
suatu perkawinan, disitu jelas biaya perkawinan sangatlah besar jika memang
harus menuruti gaya hidup bukan suatu kebutuhan pada umumnya, bukankah
pertanggungjawaban setelah masa kawin yang seharusnya di utamakan jadi memang sangtalah perlu kesiapan
bathin dan lahir dan itu semua sangatlah penting dalam masa untuk memulai suatu rumah tangga.
Kebutuhan hidup yaitu untuk
bertahan hidup sudah sangatlah besar resikonya dimana semua manusia harus melanjutkan
kehidupannya dengan segala kekurangn dan persoalan dalam hidupnya, seperti
halnya bertahan untuk menghidupi hidup dengan bekerja, disitulah saudara ku sekalian dalam suatu tempat kerja sudah begitu banyak
tanggung jawab yang harus ia selesaikan ia berkorban waktu tenaga dan fikiran serta terkadang tidak menghiraukan atas rasa dan nurani dari situ tidak menutup kemungkinan akan timbul suatu permasalahan baru.
Disitulah kawan mari kita berfikir, tanggung jawab untuk diri sendiri saja
terkadang lupa yaitu untuk makan, memberi senyum kepada orang-orang terdekat dan
saat ini di tambah dengan sikap mental persaingan dalam suatu pekerjaan,
sebenarnya menurutku kami bicara pekerjaan tidak terlepas dari untuk mencukupi
kebutuhan agar bertahan yaitu dengan mengharap imbalan dari tempat kerja pada
setiap bulannya jadi disitu jelas kesetiaan para pekerja/pelayan akan mereka
persembahkan seoptimal munkgin untuk mendapatkan imbalan yang maksimal juga
namun disini ada kesenjangan dimana kebutuhan manusia sangatlah dan tidak akan
pernah terpuaskan seperti dalam istilah lain adalah homoekonomikus.
Coba kita berfikir sekali lagi
atas dedikasi waktu dari pagi mungkin sampai pagi lagi, dari malam mungkin
sampai malam lagi semata untuk mendapatkan upah pada setiap bulannya, ada juga
yang memang mereka melayani karna mereka sadar bahwa kami sebagai manusia sudah
menjadi tanggung jawab kami untuk peduli dengan sesama yaitu sebagai ajang
beribadah manifesto dari kepercayaan pada sesembahannya, namun tidak sedikit juga yang beranggapan bahwa kerja adalah sebuah
rutinitas.
Sebenarnya pada hemat kami tidak
sebanding jika upah yang mereka terima hanya sekian persen dari mungkin
keuntungan tempat dimana ia bekerja, pertama untuk pemenuhan kebutuhan utama
seperti untuk biaya makan, transportasi, di tambah lagi sekarang penggunaan
internet sudah seperti kebutuhan utama juga karna sebagai sarana untuk
komunikasi yaitu pembelian paket internet dan pulsa. Lalu jika dipergunakan untuk
pemenuhan kebutuhan tersebut akan tersisa berapa? Tapi kenapa kita lebih sering berdiam
diri jika ada mimpi yang belum tercapai????
Kembali pada problematika manusia
dalam rumah tangga, diluar sana kami melihat ada begitu banyak persoalan rumah
tangga seperti halnya : Perceraian, Perselingkuhan, Kekurangan Materi, kenakalan Remaja, Free sex, Pembunuhan, Pencurian, Penganiayaan, Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Perselingkuhan, Sakit-sakitan, Tidak Menafkahi Lahir dan atau Batin Pasangan. Ada begitu banyak kasus / persoalan yang timbul dalam rumah tangga /Keluarga dan juga yang tak kalah banyaknya adalah persoalan dari
seorang anak ,,, iyah sekali lagi anak,,,,
Jika anak yang makin banyak menambah
beban orang tua untuk apa dia di lahirkan di dunia ini bukankah lebih baik
membantu manusia lain yang sedang dalam kesusahan, bukankah lebih baik membenahi
diri mereka yang sudah terlanjur tersandung permasalahan, dan mengapa pula nabi khidir
waktu itu membunuh anak kecil karna ia sadar / paham anak itu hanya akan
durhaka kepada orang tua dan tidak akan membawa kemanfaatan.
Iyah anak.....anak itu adalah titipan
tuhan ada sebagian yang berpendapat demikian, anak adalah penerus cita-cita
orang tua itu juga merupakan pembodohan menurutku karna disini jelas diri meraka
tidak sama, sudah pasti keinginan merekapun juga berbeda lalu kenapa tidak
sedikit orang tua menuntut anaknya seperti ini dan itu???? Kenapa mereka tidak
dibiarkan dalam pengawasan untuk tumbuh berkembang, bagaimana mereka mengenal
dirinya sendiri jika selalu ada tekanan dari luar diri mereka.
Tetapi disini ketika pasangan
tidak memiliki /belum memiliki keturunan mereka mungkin mengira tidak akan ada
masalah yang akan mereka lalui justru sebaliknya mereka salah, masalah pasti
akan tetap ada selagi kita masih hdiup, itu janji tuhan dalam firman, jika tak
percaya boleh sudara tantang dan melawan niscaya tidak akan bersukacita, pertanyaan jika manusia sudah pada usia dewasa pertanyaan yang pasti terlontar adalah kapan sudara menikah? lalu setelah menikah kapan sudara punya anak? lalu setelah punya anak satu akan masih ada pertanyaan lagi yang serupa, kapan punya anak kedua? disitu timbul fikiran mengapa pula orang lain harus mendikte hidup kita? ada yang berfikir setelah mempunyai anak satu ia sadar betapa besar biaya hidup membesarkan anak? ada yang berfikir untuk menghidupi hidup berpasangan saja pas-pasan bagaimana nanti menghidupi anak jika masih pada keadaan yang demikian bukankah itu sama saja dengan memasuki lubang lumpur kenestapaan.
Semua orang memiliki pemikiran
atau pandangan tentang hidup yang berbeda-beda, iyah karna kita (manusia memang
tercipta jelas berbeda) memang berbeda, hidup yang dijalani berbeda ada yang
kehidupannya sulit namun dibikin mudah dan hidup mudah dibikin sulit, itu
tergantung individu masing-masing, dan mungkin kita sering merasakan apa yang
kita jalani sangatlah sulit dan bahkan tidak mampu untuk di lalui tapi sejenak
kita harus berfikir kembali apa yang kita hadapi belum tentu lebih berat dari
orang lain, jangan terlalu sering melihat kekurangan kita jadi alangkah lebih
baiknya kita melihat anugerah yang diberikan tuhan untuk kita, yang masih bisa
kita manfaatkan dengan baik di bandingkan harus terus mengeluh karna satu atau
beberapa kekurangan kita. Hidup sulit dan penuh perjuangan, iyah itu
benar, bernafaspun yang gratis saja kita
juga harus berjuang, berjuang bernafas dan mendapatkan oksigen yang cukup agar
kita masih bisa bernafas.
Kita tidak bisa menuntut orang
lain untuk bisa sejalan atau sepemikiran dengan kita, tapii dengan mereka cukup
tahu bagaimana pola pikir kita maka mereka akan tetap sejalan dengan kita
walaupun tidak sepemikiran, sperti sepenggalan lyrik (kafirlogika) diatas langit ada rahasia yang belum
terungkit, seperti itu pula manusia diantara pemikiran kita ada pemikiran
orang lain juga.
Rasa sakit / hati yang sakit itu wajar karna kita
manusia bukan dewa ataupun tuhan yang memiliki perasaan sempurna, rasa sakit
diciptakan kadang untuk dinikmati d(dalam arti dipahami) karna dari rasa sakit
kita tahu bagaimana cara mengatasi rasa yang paling perih untuk dijalani dan
mencoba untuk tidak memberikan rasa sakit itu kepada orang lain walaupun
terkadang dalam kenyataannya secara sadar ataupun tidak sadar, secara sengaja
ataupun tidak sengaja kita menyakiti orang lain, entah dari ucapan sikap atau
tulisan.
Terimkasih dari ku.
KFRLGK