Kamis, 16 Agustus 2018

Diarap ku Berharap

Diarap ku Berharap

Ku rindu para pendahulu, yang sungguh rela berjuang dan berkorban walau nyawa terbuang,
hanya bisa mengenang dengan alunan dan tulisan usang, tangis ku mengiringi jalan mu,
tapi ku sangat yakin bahwa kau ada selalu disisi, tak pernah mati, kau tetap ada,
sepanjang masa singgah di dada, merasuk jadi harapan umat dan seluruh bangsa.
Ku ucap terimakasih untuk para pendahulu, orang tuaku, kakek nenekku, panutan-panutan mu, rosul nabimu, junjungan hidup mu, sesembahan mu.
 

Dan aku melihat makin banyak rapper yang kepengin tenar
sok belagu minta dihajar, rima mu miskin wacana dan kosa kata
gayamu sok iyess padahal cuma modal mengeles,
kebanyakan gaya karna  kau memang domba tak berguna

berbeda dengan ku yang tak takut berlomba,
akupun tak ragu jika harus beradu, akupun hilangkan malu
kau mulai menggerutu karna dengerin ini semacam lagu.

Kita jeli gak bakal ketipu, oleh sifat sombong mu, yang cuma sebatas mengoceh tak sampai dikalbu,
frasa ku setajam pisau, ku lihat kau pun semakin galau, akupun tak hirau, rima aksara mu hanya bermodal gurau.


Aku tak bisa apa, akupun tak ingin menyerah, keadaan dan ketidak mampuan bukan hambatan, 
tuk lanjutkan perjuangan, untuk bertahan dengan keluarga dan juga teman
bergerak lambat macam tumbuhnya padi dan aku berjanji pada siang dan pagi
untuk terus bekerja tak akan henti. 

Aku sudah lelah berkata-kata hanyalah kebohongan dusta semata
tak beri terang untuk setiap jalang, semua hanya pendosa
sisakan asa dalam haru birunya cinta, coba tapakan doa ditiap harinya
tanpa harus berujar pada sang pencipta, negara atau agama biarkan tetap pada fitrahnya

dan aku putuskan moral karna siap jual rasa malu untuk dapati makan
agar terus bertahan dan berjalan, sembari kibarkan ide dan juga gagasan
walau berbalut kepentingan, biarlah sudah tak ku hiraukan
karna semua makhluk memang telah digariskan, 



Humanista

Begitu banyak perampasan tanah, buat ku ingin muntah
seakan makin banyak darah dan nanah.  penggusuran serta serta banjirpun juga makin mewabah, 
para jamaah makin giat dalam beribadah
namun mereka hanya percaya akan pertolongan tuhan yang tak menganal khitbah

berkhutbah tebarkan sejarah halalkan meminum darah, serukan untuk menjarah.
Musik dan media menjadi opium massa, dengannya mari kita maju bersama,
dan hari ini, kebisingan duduk untuk memerintahnya lebih tinggi melampaui kepekaan manusia, 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar