2 minggu lalu tepatnya tertanggal
10 september datanglah perempuan berusia 35 tahun ke kantor bantuan hukum kami,
dia pun mengisi buku tamu yang dilayani seorang sekuriti dengan keperluan untuk
konsultasi lalu tamu tersebut dipersilahkan masuk dan dipersilahkan untuk duduk
di ruang konsultasi setelah itu salah satu konsultan kami memberi salam kepada
tamu tersebut.
Tamu memperkenalkan diri “nama
saya siti dari tulung agung, saya datang kemari hendak konsultasi masalah rumah
tangga kami” suami saya bernama susanto kami menikah 7 tahun yang lalu, anak
kami 2 laki dan perempuan yang laki anak pertama aku kasih nama santo sementara
yang perempuan anak kedua aku kasih nama santi mereka berusia 3 tahun dan 1
tahun.
Persoalan rumah tangga kami berawal dari awal menjelang pernikahan, jadi
begini,,, 10 hari sebelum hari pernikahan suami saya terkena masalah sehingga
tidak bisa melangsungkan perkawinan padahal semua sudah kami persiapkan seperti
undangan, seserahan, mas kawin dan sudah banyak keluarga yang tahu akan tanggal
rencana pernikahan akhirnya perkawinan benar-benar ditunda 10 bulan.
Disitu jelas kami malu dan secara
materi kita juga rugi, suami ku terkena persoalan /terjerat pasal 378 penipuan
dengan pidana kurungan 10 bulan dan denda 27 juta, persoalan ini tidak ada yang
tahu karna saya menghormati dan menjaga nama baik suami dan orang tua, uang
sebesar 27 juta yang saat itu gaji kerja ku sangatlah rendah tidak cukup untuk
membayarnya, akhirnya aku jual cincin gelang kalung dan meminjam kepada saudara
untuk menebus persoalan suami supaya dapat keringanan.
Saya merasa berat dan kecewa
sebenarnya tapi saya harus menjaga perasaan keluargaku, calon suami ku dan semua
orang, jadi beban bagiku harus mencicil setiap bulan beserta bunganya, kemudian
10 bulan berlalu suami keluar dari penjara dan akupun terobati rasa sakit dan
kecewa ku dan kamipun melangsungkan perkawinan di bulan itu juga. Kita bahagia
saat itu.
5 bulan berjalan pernikahan kami
baik-baik saja lalu pada bulan ke enam suami melakukan kesalahan lagi dia
ternya melakukan hal yang selama ini aku benci dia (suami) selingkuh dengan
wanita lain serta dia tertangkap polisi karna mengedarkan obat-obatan terlarang
jenis narkotika (ektasi) dan narkoba (ganja) disitu aku sangat kecewa ingin
rasanya aku hilang dari kehidupan ini, aku sangat ketakutan bagaimana nanti
keluarga ku dan orang tua ku saya harus pulang memberitahu orang tua keluarga
tentang nasib yang dialami suami ku, karna saat itu kami sudah punya rumah dari
hasil tabungan meskipun masih mencicil.
Suamiku diam saja dan aku
menangis, aku menelpon orang tua dengan berat hati dan menahan air mata serta
pura-pura tegar dihadapannya, akupun pulang ke rumah dengan rasa malu pada
orang tua dan tetangga dan keluarga yang lain jika tahu persoalan yang terjadi.
Serasa tidak ada keadilan disitu,
aku hampir tak percaya adanya tuhan tapi orang tua ku justru menasehati ku dan
menguatkan ku, sejak saat itu merasa tidak punya siapapun yang mengerti
keadaanku, dimana aku yang harus tetap bekerja membayar bulanan hutang beserta
bunganya, dimana aku yang harus senyum, akupun lebih sering mengurung diri di
kamar, sering melamun, jarang berkomunkasi atau berinteraksi dengan orang lain
yang aku tahu saat itu beban dunia ada dipundak ku, rasanya ingin mati dan
tidak punya keinginan apapun.
2 tahun berjalan aku sperti orang
tak waras lalu aku kenal dengan seorang pria sebut saja tarjo, tarjo itu
mendengarkan semua yang aku alami tadi, aku senang punya tempat bercerita, dan
mungkin si tarjo juga merasakan hal yang sama meskipun dia punya seorang istri
tetapi selain itu memang pekerjaan tarjo bersangkutan dengan semua cerita ku
tadi seperti persoalan dalam rumah tangga, sulitnya mencukupi kebutuhan, cerita
apa yang terjadi dengan pasangannya, dan tarjo kalo saya lihat merasa
benar-benar terpanggil untuk memberikan pelayanan layaknya seorang klien.
Dari situ kami tambah dekat untuk
bicara persolan rumah tangga atau bertemu untuk sekedar makan atau hanya
bercerita dan menanyakan kegiatan tiap harinya, dari situ aku merasa hidup lagi
aku merasa punya mimpi baru, aku menemukan cahaya aku berfikir seandainya tarjo
jadi suamiku tapi itu tak mungkin karna kita sudah sama-sama punya pasangan
tetapi kita tidak mempedulikan itu. Aku senang ada yang membuat aku semangat
menjalani hidup, aku juga bercerita setelah ketemu tarjo dan memang terbiasa
sendiri aku mampu hidup sendiri tanpa pasangan aplagi sekrang kenal dengan
tarjo , tarjo sebagai lelaki juga sepertinya mngerti dengan yang dimaksud.
Aku bermimpi hidup dengan tarjo
meskipun dia tetap punya istri, bermimpi hidup bersama sampai tua, bermimpi
hidup bermanfaat untuk orang lain, punya panti asuhan dan banyak hal lain yang
kita rangkai. Tarjo sekali lagi terpanggil adanya persoalan gejolak ini jadi
dia sekuat hati mempertahankan hubungan mereka dengan segala resiko.
2 tahun berlalu suami ku pulang
akupun bingung mesti senang gembira atau bersedih, senang karna orang yang dulu
pernah ditunggu keluar dari persembunyiannya(buih) sedangkan sedih karna
mungkin akan sulit bertemu, tarjo saat itu sedih karna mereka telah bersepakat
tanpa tulisan tetapi perasaan dan ternyata setelah suamiku keluar dari penjara
selama 3 hari tanpa ada kabar dari aku baik sms ataupun telpon untuk tarjo,
tarjopun merasa diabaikan karna tarjo memberikan waktunya untuk ku, dia membagi
waktu dengan istri dan pekerjaanya untuk ku terkadang tarjo berani memperkenalkan
aku ke tempat kerjanya, belajar tentang profesi tarjo, menyalamkan ke istri,
orang tua bahkan ke kampus, pernah juga waktu itu tarjo mengajak ku mengikuti
pelatihan serta donor darah juga pernah.
Tapi aku akhirnya memberi kabar
ke tarjo, dan tarjo masih mau membahas tentang hubungan kita, tarjo masih mau
mmpertahankan hbungan kita, dan karna aku merasa lebih senang dengan tarjo jadi
akupun juga mau mempertahankan hubungan ini dengan segala resiko meskipun
hubungan ini sulit toh suami ku juga terlalu banyak mengecewakan ku dan orang
tua ku dan aku berjanji akan tetap dengan tarjo apapun yang terjadi.
Selain itu selama suami ku
dilapas aku yang mencukupinya, dan semua orang menganggap ku bodoh karna mau
mempertahankan hubungan ini (dengan suami), sudah jelas suami ku tidak
menafkahi ku malah membuat orang tua ku malu dan sedih.
Kita semakin sering bertemu
dengan sama-sama meluangkan waktu baik saat kerja ataupun hari-hari libur malah
terkadang tidak kerja demi untuk hubungan kita (membolos kerja), meluangkan
waktu saat setelah atau sebelum bekerja, lalu terjadilah kekacauan dimana istri
tarjo memergoki hubungan kita, istri tarjo melihat kita bertemu disuatu tempat
disitu pula terjadi pertengkaran hebat istri tarjo marah ingin melukai anggota
tubuhnya sendiri, waktu itu malam hari dan pertengkaran terjadi hingga pagi
bahkan siang hari.
Saat itu saat bertengkar aku
membiarkan dua wanita berdamai mereka berpelukan saling menyalahkan diri
sendiri, istri tarjo berlalu membiarkan kami berdua untuk menyelesaikan
hal/pembicaraan yang belum selesai, selang berapa jam istri tarjo ternyata
balik lagi dan untuk kali ini aku yang memilih meninggalkan mereka biar mereka
baikan tetapi justru mereka lebih hebat ketika bertengkar istri tarjo menangis
kencang kesakitan tarjo pun marah, mereka saling dorong dan saling menyalahkan
dengan tidak terkontrol.
Sesaat itu juga suamiku aku telp
guna untuk menjemput ku, diapun mau mengantarkan ku pulang setelah aku meminta
tarjo mencarikan tempat untuk singgah karna aku tak ingin pulang dan aku juga
bilang tidak membawa bekal, waktu itu tarjo memenuhi kebutuhan ku disana dari
aku yang gak bawa uang, dia memberiku makan, membelikan keperluan hari-hari ku .
Dengan adanya hal ini aku mengtakan menyudahi tetapi tarjo merasa belum bisa
karna diposisi ini terjo yang banyak d rugikan karna istri melihat bahwa kita
bersama selama satu hari pasti hubungan tarjo dan istri jadi sangat berantakan
dan itu karna kita saat itu juga aku ingin mengakhirinya dengan tarjo padahal
dia sudah terlalu baik dan dia membiarkan istrinya sakit demi aku.
Dan tarjo ga terima akan
perlakuan ini tidak adil dong begitu katanya, dia mau klarifikasi dengan ku
mempertanyakan ada apa sebenarnya???? Tapi aku biarkan dan gak aku anggap dia
akan tetapi dia tidak mau justru suami dan orang tuanya yang menanggapi serta
menyuruh tarjo untuk datang ke ruamah.
Tarjopun berangkat ke rumahnya dengan
resiko yang akan dihadapi serta berharap ada keadilan disana mendapat perlakuan
baik tetapi justru tarjo diusir dari rumah dia gk boleh masuk rumah oleh suami
padahal suami yang menyuruh tarjo, tarjopun tetap berdiri disana dengan
mengucap salam walaupun tidak ditanggepin.
Kami membawa sedikit oleh-oleh
buat orang tua yang katanya sakit tapi orang tua menolaknya, kita didudukan
pada suatu ruangan, mereka (tarjo dan istri) duduk di lantai bawah beralasan
tikar, kondisi keluarga semua dalam keadaan tidak baik bisa dilihat dari raut
wajah dan dari cara mereka menyampaikan pendapat.
Tarjo dengan tegas mengucap salam
lagi dan menyampaikan bahwa kedatangan tarjo ke rumah untuk tetap jalin persaudaraan,
kedua menjenguk ibu yang kabarnya sedang sakit, tiga memenuhi panggilan kata
suami ku dan bapak ku bahwa tarjo suruh datang ke rumah, namun bapak ku
menunjukan sifat kemarahan, kekecewaan dan ketidaksukaannya kepada terjo bahkan
menjelekan istri tarjo yang tidak tahu apapun, dan menyalahkan semua persoalan
ini ke tarjo baik bapak, ibu suami atau kakaknya, bapaknya dengan nada kasar
dan setengah teriak berucap mau membunuh aku dan mengancam aku untuk di bunuh,
suami juga menunjukan ketidaksukaanya dengan memberikan pelototan mata tajam
dan dengan nada geram mereka berbicara, tarjopun menanggapi semuanya baik bapak
yang terus marah dengan keras tegas bicara menyalahkan tarjo, merendahkan
akhlak tarjo, menghina pendidikan bahwa mereka (tarjo dan istri) berpendidikan
tapi bejat.
Mereka (tarjo dan istri) pasti
sakit hati sebenarnya tarjo ingin berontak dan berperilaku lebih dari bapak,
bahkan bapak menyuruh suami ku membunuh tarjo tetapi tarjo bersikap biasa,
mereka mungkin menghormati karna ada orang tua, dan disitu yang ditanyain hanya
tarjo beserta istrinya dan aku hanya menangis meminta maaf menahan amarah tapi
tarjo sepertinya sadar akan resiko itu dan tidak takut akan ancaman atau jika
suami dan bapak mau marah atau pukul sekalipun atau mau membunuh tarjo nyatanya
tarjo masih mau menyampaikan maafnya walaupun tidak menyampaikan pendapatnya.
Dengan kecewa tarjo yang mengakui
kesalahan dan mminta maaf dan mmnta untuk berdoa, stelah doa mereka pamit undur
diri, dengan kecewa karna tidak ada kejelasan dari ku dan perlakuan orang tua
ku.
Menurut saudara bagaimana
seharusnya aku? Aku bingung. Aku memblokir nmer tarjo. Aku biarkan. Sementara perlakuan
suami atau bapak hanya menyalahkan tarjo, bersikap tidak baik padahal tarjo
sudah mau datang ke rumah, mungkin tarjo jika tidak mau peduli akan membiarkan
dan tidak mau tahu tetapi tarjo mau untuk datang ke rumah biar ada
kejelasan/kepastian. Silahkan berikan komentar.
Terimakasih.

