Selasa, 25 September 2018

kronologis kejadian 1

2 minggu lalu tepatnya tertanggal 10 september datanglah perempuan berusia 35 tahun ke kantor bantuan hukum kami, dia pun mengisi buku tamu yang dilayani seorang sekuriti dengan keperluan untuk konsultasi lalu tamu tersebut dipersilahkan masuk dan dipersilahkan untuk duduk di ruang konsultasi setelah itu salah satu konsultan kami memberi salam kepada tamu tersebut.

Tamu memperkenalkan diri “nama saya siti dari tulung agung, saya datang kemari hendak konsultasi masalah rumah tangga kami” suami saya bernama susanto kami menikah 7 tahun yang lalu, anak kami 2 laki dan perempuan yang laki anak pertama aku kasih nama santo sementara yang perempuan anak kedua aku kasih nama santi mereka berusia 3 tahun dan 1 tahun.

Persoalan rumah tangga kami  berawal dari awal menjelang pernikahan, jadi begini,,, 10 hari sebelum hari pernikahan suami saya terkena masalah sehingga tidak bisa melangsungkan perkawinan padahal semua sudah kami persiapkan seperti undangan, seserahan, mas kawin dan sudah banyak keluarga yang tahu akan tanggal rencana pernikahan akhirnya perkawinan benar-benar ditunda 10 bulan.

Disitu jelas kami malu dan secara materi kita juga rugi, suami ku terkena persoalan /terjerat pasal 378 penipuan dengan pidana kurungan 10 bulan dan denda 27 juta, persoalan ini tidak ada yang tahu karna saya menghormati dan menjaga nama baik suami dan orang tua, uang sebesar 27 juta yang saat itu gaji kerja ku sangatlah rendah tidak cukup untuk membayarnya, akhirnya aku jual cincin gelang kalung dan meminjam kepada saudara untuk menebus persoalan suami supaya dapat keringanan.

Saya merasa berat dan kecewa sebenarnya tapi saya harus menjaga perasaan keluargaku, calon suami ku dan semua orang, jadi beban bagiku harus mencicil setiap bulan beserta bunganya, kemudian 10 bulan berlalu suami keluar dari penjara dan akupun terobati rasa sakit dan kecewa ku dan kamipun melangsungkan perkawinan di bulan itu juga. Kita bahagia saat itu.

5 bulan berjalan pernikahan kami baik-baik saja lalu pada bulan ke enam suami melakukan kesalahan lagi dia ternya melakukan hal yang selama ini aku benci dia (suami) selingkuh dengan wanita lain serta dia tertangkap polisi karna mengedarkan obat-obatan terlarang jenis narkotika (ektasi) dan narkoba (ganja) disitu aku sangat kecewa ingin rasanya aku hilang dari kehidupan ini, aku sangat ketakutan bagaimana nanti keluarga ku dan orang tua ku saya harus pulang memberitahu orang tua keluarga tentang nasib yang dialami suami ku, karna saat itu kami sudah punya rumah dari hasil tabungan meskipun masih mencicil.

Suamiku diam saja dan aku menangis, aku menelpon orang tua dengan berat hati dan menahan air mata serta pura-pura tegar dihadapannya, akupun pulang ke rumah dengan rasa malu pada orang tua dan tetangga dan keluarga yang lain jika tahu persoalan yang terjadi.

Serasa tidak ada keadilan disitu, aku hampir tak percaya adanya tuhan tapi orang tua ku justru menasehati ku dan menguatkan ku, sejak saat itu merasa tidak punya siapapun yang mengerti keadaanku, dimana aku yang harus tetap bekerja membayar bulanan hutang beserta bunganya, dimana aku yang harus senyum, akupun lebih sering mengurung diri di kamar, sering melamun, jarang berkomunkasi atau berinteraksi dengan orang lain yang aku tahu saat itu beban dunia ada dipundak ku, rasanya ingin mati dan tidak punya keinginan apapun.

2 tahun berjalan aku sperti orang tak waras lalu aku kenal dengan seorang pria sebut saja tarjo, tarjo itu mendengarkan semua yang aku alami tadi, aku senang punya tempat bercerita, dan mungkin si tarjo juga merasakan hal yang sama meskipun dia punya seorang istri tetapi selain itu memang pekerjaan tarjo bersangkutan dengan semua cerita ku tadi seperti persoalan dalam rumah tangga, sulitnya mencukupi kebutuhan, cerita apa yang terjadi dengan pasangannya, dan tarjo kalo saya lihat merasa benar-benar terpanggil untuk memberikan pelayanan layaknya seorang klien.

Dari situ kami tambah dekat untuk bicara persolan rumah tangga atau bertemu untuk sekedar makan atau hanya bercerita dan menanyakan kegiatan tiap harinya, dari situ aku merasa hidup lagi aku merasa punya mimpi baru, aku menemukan cahaya aku berfikir seandainya tarjo jadi suamiku tapi itu tak mungkin karna kita sudah sama-sama punya pasangan tetapi kita tidak mempedulikan itu. Aku senang ada yang membuat aku semangat menjalani hidup, aku juga bercerita setelah ketemu tarjo dan memang terbiasa sendiri aku mampu hidup sendiri tanpa pasangan aplagi sekrang kenal dengan tarjo , tarjo sebagai lelaki juga sepertinya mngerti dengan yang dimaksud.

Aku bermimpi hidup dengan tarjo meskipun dia tetap punya istri, bermimpi hidup bersama sampai tua, bermimpi hidup bermanfaat untuk orang lain, punya panti asuhan dan banyak hal lain yang kita rangkai. Tarjo sekali lagi terpanggil adanya persoalan gejolak ini jadi dia sekuat hati mempertahankan hubungan mereka dengan segala resiko.

2 tahun berlalu suami ku pulang akupun bingung mesti senang gembira atau bersedih, senang karna orang yang dulu pernah ditunggu keluar dari persembunyiannya(buih) sedangkan sedih karna mungkin akan sulit bertemu, tarjo saat itu sedih karna mereka telah bersepakat tanpa tulisan tetapi perasaan dan ternyata setelah suamiku keluar dari penjara selama 3 hari tanpa ada kabar dari aku baik sms ataupun telpon untuk tarjo, tarjopun merasa diabaikan karna tarjo memberikan waktunya untuk ku, dia membagi waktu dengan istri dan pekerjaanya untuk ku terkadang tarjo berani memperkenalkan aku ke tempat kerjanya, belajar tentang profesi tarjo, menyalamkan ke istri, orang tua bahkan ke kampus, pernah juga waktu itu tarjo mengajak ku mengikuti pelatihan  serta donor darah juga pernah.

Tapi aku akhirnya memberi kabar ke tarjo, dan tarjo masih mau membahas tentang hubungan kita, tarjo masih mau mmpertahankan hbungan kita, dan karna aku merasa lebih senang dengan tarjo jadi akupun juga mau mempertahankan hubungan ini dengan segala resiko meskipun hubungan ini sulit toh suami ku juga terlalu banyak mengecewakan ku dan orang tua ku dan aku berjanji akan tetap dengan tarjo apapun yang terjadi.

Selain itu selama suami ku dilapas aku yang mencukupinya, dan semua orang menganggap ku bodoh karna mau mempertahankan hubungan ini (dengan suami), sudah jelas suami ku tidak menafkahi ku malah membuat orang tua ku malu dan sedih.

Kita semakin sering bertemu dengan sama-sama meluangkan waktu baik saat kerja ataupun hari-hari libur malah terkadang tidak kerja demi untuk hubungan kita (membolos kerja), meluangkan waktu saat setelah atau sebelum bekerja, lalu terjadilah kekacauan dimana istri tarjo memergoki hubungan kita, istri tarjo melihat kita bertemu disuatu tempat disitu pula terjadi pertengkaran hebat istri tarjo marah ingin melukai anggota tubuhnya sendiri, waktu itu malam hari dan pertengkaran terjadi hingga pagi bahkan siang hari.

Saat itu saat bertengkar aku membiarkan dua wanita berdamai mereka berpelukan saling menyalahkan diri sendiri, istri tarjo berlalu membiarkan kami berdua untuk menyelesaikan hal/pembicaraan yang belum selesai, selang berapa jam istri tarjo ternyata balik lagi dan untuk kali ini aku yang memilih meninggalkan mereka biar mereka baikan tetapi justru mereka lebih hebat ketika bertengkar istri tarjo menangis kencang kesakitan tarjo pun marah, mereka saling dorong dan saling menyalahkan dengan tidak terkontrol.

Sesaat itu juga suamiku aku telp guna untuk menjemput ku, diapun mau mengantarkan ku pulang setelah aku meminta tarjo mencarikan tempat untuk singgah karna aku tak ingin pulang dan aku juga bilang tidak membawa bekal, waktu itu tarjo memenuhi kebutuhan ku disana dari aku yang gak bawa uang, dia memberiku makan, membelikan keperluan hari-hari ku . Dengan adanya hal ini aku mengtakan menyudahi tetapi tarjo merasa belum bisa karna diposisi ini terjo yang banyak d rugikan karna istri melihat bahwa kita bersama selama satu hari pasti hubungan tarjo dan istri jadi sangat berantakan dan itu karna kita saat itu juga aku ingin mengakhirinya dengan tarjo padahal dia sudah terlalu baik dan dia membiarkan istrinya sakit demi aku.

Dan tarjo ga terima akan perlakuan ini tidak adil dong begitu katanya, dia mau klarifikasi dengan ku mempertanyakan ada apa sebenarnya???? Tapi aku biarkan dan gak aku anggap dia akan tetapi dia tidak mau justru suami dan orang tuanya yang menanggapi serta menyuruh tarjo untuk datang ke ruamah.

Tarjopun berangkat ke rumahnya dengan resiko yang akan dihadapi serta berharap ada keadilan disana mendapat perlakuan baik tetapi justru tarjo diusir dari rumah dia gk boleh masuk rumah oleh suami padahal suami yang menyuruh tarjo, tarjopun tetap berdiri disana dengan mengucap salam walaupun tidak ditanggepin.

Kami membawa sedikit oleh-oleh buat orang tua yang katanya sakit tapi orang tua menolaknya, kita didudukan pada suatu ruangan, mereka (tarjo dan istri) duduk di lantai bawah beralasan tikar, kondisi keluarga semua dalam keadaan tidak baik bisa dilihat dari raut wajah dan dari cara mereka menyampaikan pendapat.

Tarjo dengan tegas mengucap salam lagi dan menyampaikan bahwa kedatangan tarjo ke rumah untuk tetap jalin persaudaraan, kedua menjenguk ibu yang kabarnya sedang sakit, tiga memenuhi panggilan kata suami ku dan bapak ku bahwa tarjo suruh datang ke rumah, namun bapak ku menunjukan sifat kemarahan, kekecewaan dan ketidaksukaannya kepada terjo bahkan menjelekan istri tarjo yang tidak tahu apapun, dan menyalahkan semua persoalan ini ke tarjo baik bapak, ibu suami atau kakaknya, bapaknya dengan nada kasar dan setengah teriak berucap mau membunuh aku dan mengancam aku untuk di bunuh, suami juga menunjukan ketidaksukaanya dengan memberikan pelototan mata tajam dan dengan nada geram mereka berbicara, tarjopun menanggapi semuanya baik bapak yang terus marah dengan keras tegas bicara menyalahkan tarjo, merendahkan akhlak tarjo, menghina pendidikan bahwa mereka (tarjo dan istri) berpendidikan tapi bejat.

Mereka (tarjo dan istri) pasti sakit hati sebenarnya tarjo ingin berontak dan berperilaku lebih dari bapak, bahkan bapak menyuruh suami ku membunuh tarjo tetapi tarjo bersikap biasa, mereka mungkin menghormati karna ada orang tua, dan disitu yang ditanyain hanya tarjo beserta istrinya dan aku hanya menangis meminta maaf menahan amarah tapi tarjo sepertinya sadar akan resiko itu dan tidak takut akan ancaman atau jika suami dan bapak mau marah atau pukul sekalipun atau mau membunuh tarjo nyatanya tarjo masih mau menyampaikan maafnya walaupun tidak menyampaikan pendapatnya.

Dengan kecewa tarjo yang mengakui kesalahan dan mminta maaf dan mmnta untuk berdoa, stelah doa mereka pamit undur diri, dengan kecewa karna tidak ada kejelasan dari ku dan perlakuan orang tua ku.

Menurut saudara bagaimana seharusnya aku? Aku bingung. Aku memblokir nmer tarjo. Aku biarkan. Sementara perlakuan suami atau bapak hanya menyalahkan tarjo, bersikap tidak baik padahal tarjo sudah mau datang ke rumah, mungkin tarjo jika tidak mau peduli akan membiarkan dan tidak mau tahu tetapi tarjo mau untuk datang ke rumah biar ada kejelasan/kepastian. Silahkan berikan komentar.
Terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar